Papaku meninggal karena Kanker Paru-paru 18 tahun yg lalu. Saat itu aku baru berumur 8 tahun. Namun adalah kenangan dan inspirasi dari Papa yang tidak pernah bisa lepas dari diriku.
Aku mengingat setiap kebaikan hatinya. Bagaimana Beliau dengan penuh semangat berkeliling Jawa dan Kalimantan untuk mencari kerajinan tangan khas Indonesia yang bisa ia jual atau dijadikan souvernir sesuai dengan permintaan pemesan.
Bagaimana beliau selalu membawa keluarganya menyetir 8 Jam ke daerah pedalaman Kalimantan untuk menghadiri atau mengadakan kunjungan sosial hampir setiap bulan.. Aku terpesona dengan kebaikan hatinya membagi waktu dan cintanya untuk orang lain...
Aku ingat sekali binar dimatanya ketika Beliau mengajak kami sekeluarga ke Singapore untuk melihat pameran teknologi di Pulau Sentosa, dan tatapan mata bangganya ketika melihat ketiga anak-anaknya begitu gembira.
Aku masih ingat ketika aku berumur 5 tahun dan digendongnya karena aku capai dan kepanasan namun memaksa untuk bisa mencapai puncak Candi Borobudur. Beliau memanggulku dan memenuhi keinginan anaknya masih berumur 5 tahun ini....
Aku tidak bisa melupakan ketika Beliau gemetaran karena diminta Mamaku untuk menggunting kuku jariku. Beliau begitu takut akan melukai tangan-tangan kecilku...
Aku pernah bingung mengapa Beliau mau menjadi penyalur Komik-komik Indonesia seperti Ko Ping Ho dsb dan penyalur alat bantu baca ke sekolah2 pedalaman... Tapi aku ingat dan mengerti sekali ketika melihat binar dimatanya ketika Beliau melihat anak-anak itu begitu bahagianya karena ada yang membantu mereka sekolah...
Aku tak bisa melupakan disaat Beliau berbisik ke Mamaku dan berkata, "Senang sekali melihat anak kita bisa makan banyak..."
Aku tidak bisa melupakan bagaimana Beliau menggendongku sambil bernyanyi-nyanyi walau suaranya sumbang....
Aku tidak bisa melupakan bagaimana Beliau bisa bercerita dengan penuh semangat akan kerjaan-kerjaan, akan teknologi terbaru... disaat org-org lain masih takut dengan yg namanya Komputer, Beliau sudah membelikan kami satu IBM yang bahkan chasingnya sama lebih dari 5 kg, dari besi, tebal dan bermagnet. Layarnya tebal, printernya dot matrix, dan belum ada VGA Cardnya...
Aku tidak bisa tidak bangga, ketika sampai detik ini masih ada yg menghampiri Mamaku atau aku dan memuji kebaikan Beliau. Bagaimana Beliau telah banyak menolong mereka. Sampai ke orang2 yg tidak pernah kami kenal.
Aku tidak bisa melupakan bagaimana Beliau "mengubah" hidupku, mengajariku begitu banyak hal.
Beliau menginspirasiku. Untuk mempunyai hati seluas-luasnya dan tidak pernah berhenti untuk belajar dan berbagi ...
18 tahun sudah...
But one thing inseparable is His inspirations in my life and others.
Thank you, Dad. I know you are watching me from Heaven...
Aizzah Nur
20 Agustus 2008
Teruskan kisahnya.. Ikuti jejak langkahnya.. Lanjutkan perjalanannya.. Jadilah inspirasi bagi orang-orang di sekitar anda..
yasmeen
21 Agustus 2008
Tetap smangat, karena hidup adalah perjuangan. jadikanlah kenangan indah sebagai sumber kekuatan disaat kita merasa tidak memiliki harapan atau terlalu letih tuk melangkah. Aku juga mengalami hal yg sama kayak mbak. Bedanya ibuku yang terkena kanker paru-paru. Dan aku baru tahu kalau beliau mengidap kanker paru-paru setelah beliau tiada. Tapi semangatnya selalu membuatku tegar menjalani semua badai kehidupan. She's my inspiration too.
hendra
25 Agustus 2008
vote
John E. Junarsin
25 Agustus 2008
Galeri dan cerita yang sangat menyentuh, alami, dan inspiratif. Good luck for Wuri Rostandy.
Felly
25 Agustus 2008
Sangat menginspirasi! Luarrrr biasa!!!
Papa ku juga inspirasiku. Sanking inspirasinya sampe pengen punya suami seperti papa kelak :p
Papa ku sekarang umur 76thn. Papa agak pendiam, tidak pernah yang namanya curhat apa yang dia rasakan. Kadang saya suka memandang papa lekat-lekat. Klo melihat keriputnya sekarang membuat saya meneteskan air mata (buru-buru kabur krn gak mungkin aku nangis depan papa).
Sebelum saya lahir, perekonomian keluargaku sangat terpuruk. Mempunyai delapan anak, hanya makan singkong yang direbus dengan air sepanci penuh tapi singkongnya cuma 1-2 batang saja. Papa selalu makan terakhir, sisa dari anak-anaknya (klo ada sisa). Hingga sekarang pun papa begitu, selalu makan yg terakhir...gak pernah mau makan duluan walaupun kami ajak makan sama-sama.
Bukan hanya anak-anaknya sendiri, keponakan-keponakannya pun diurus papa, padahal buat makan anak saja susahnya minta ampun.
Walaupun dulu hidup keluarga kami susah tapi papa selalu berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya. Makanya kenapa pada saat abang ku yang pertama mendapat gelar Sarjana di salah satu universitas di kota, keluarga kami amat sangat bangga! Bangganya bukan main! Sampai orang-orang kampung memberikan selamat dan derajat keluarga kami menjadi yang terpandang di sana :D
Pada saat aku dilahirkan, perekonimian keluarga kami sudah membaik.
Papa bukan saja banting tulang menghidupi keluarganya tapi juga menajdi bapak rumah tangga yang sangat cekatan, gak kalah sama para ibu. Mengatur uang belanja, ke pasar, gula habis, garam habis, nyapu, ngepel, bebenah rumah, rawat tanaman, bersihin sayur, masak, ngurus ternak-ternak, dll. Mama ku tidak perlu pusing memikirkan dan melakukan itu semua, mama hanya tau mengurus anak (berhubung anaknya 1 tahun 1...total 10 anak :D).
Sampai sekarang juga papa tetap seperti itu. Tidak berubah.
Mama ku juga tidak kalah membanggakan seperti papa. Walaupun dulu kehidupan keluarga kami sangat terpuruk, mama tetap tegar dan tetap setia pada suaminya. Bisa saja mama minggat krn gak tahan hidup susah ("pulangkan saja..aku pada ibuku atau ayahku.."), secara mama berasal dari keluarga berada.
Aku bangga punya orang tua yang luar biasa!!!
Thanks GOD! I Love You!!!
Hyo
25 Agustus 2008
Mengiatkanku kembali betapa pentingnya peranan orang tua dalam pembentukan watak seorang anak.. Menghangatkan hariku dengan membaca kisah ini. Thanks!
fulong
25 Agustus 2008
Semangat ya.. :) Jangan menyerah..
jules
25 Agustus 2008
Apapun yang terjadi, jangan menyerah.
Hiduplah dengan cara yang kita inginkan, selama itu tidak merugikan orang lain. Jangan pernah mendengarkan apa kata orang ataupun sesulit apapun keadaan yang ada di hadapan kita.
Apapun yang terjadi, jangan berhenti
Karena hidup hanya sekali, namun itupun cukup bila yang kita lakukan adalah memberi arti bagi orang lain.
Apapun yang terjadi, jadilah diri sendiri
Karena dengan menjadi diri sendiri, tidak ada kebohongan maupun kepura-puraan. Sehingga kita memahami arti kebenaran.
Apapun yang terjadi, yang terbesar adalah Kasih
Karena pada akhirnya tinggal 3 hal : Pengharapan , Iman dan Kasih Dan terbesar adalah Kasih (1 Kor 13 : 13).
Dalam kehidupan setiap generasi akan membuat jalur yang akan diikuti oleh generasi selanjutnya. Setiap pendahulu kita percaya hidup yang telah mereka jalani akan menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan orang lain. Sehingga jelas pada akhrinya setiap kita akan menjadi 'pembuka jalur ' bagi orang lain.
Have a nice journey of Life!
Yuli
26 Agustus 2008
Ungkapan hati seorang anak yg sangat menyentuh !!!
terasa kesepian dan semangat kebanggaannya...
membaca setiap potong kalimat membuat saya sangat bersyukur:
karena sampai detik ini kedua orang tua masih senantiasa mendampingi saya, dgn segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam setiap doa memohon kepada Tuhan agar saya diberi cukup waktu utk memberi kebahagiaan bagi kedua orang tua,menjaga dan mendampingi mereka selalu...
OMG...jd Home Sick nih...huhuhuuhu...
NB: kebahagiaan terbesar dalam hidup seorang anak, saat kita memiliki kesempatan dan hati utk menyadari arti orang tua dgn mata hati yg tulus.
Wuri
26 Agustus 2008
Thank you guyz! I might lost one blessing in my life but along the way I have God's grace and love through all of you...:)
Alex Honki
27 Agustus 2008
So touching....
GBU.
Rich
27 Agustus 2008
Great dad, great example. Hopefully you are setting one as well.
Cheers..